Selasa, 08 Mei 2012

RIngkaSAN NOVEL 11 PATRIOT
menurut gue


Inilah novel terbaru Andrea Hirata setelah tetralogi Laskar Pelangi dan dwilogi Cinta dalam Gelas. Dalamlaunching perdana di kampung halamannya, Belitong, Andrea mengungkapkan bahwa karyanya ini dilatarbelakangi oleh keprihatinannya terhadap persepakbolaan Indonesia yang sedang kisruh.
Kisah berawal dari Ikal, bocah kelas 6 SD, yang menemukan selembar foto buram misterius. Foto itu terdapat dalam album keluarga dan disimpan rapat oleh ibunya. Ia tak pernah diijinkan untuk melihatnya. Karena penasaran, ia ambil foto itu dan hendak mencari informasi tentangnya. Foto itu menampilkan seorang pemain sepak bola remaja yang menyungging senyum sambil memegang sebuah piala.
Betapa terkejutnya Ikal ketika mengetahui bahwa pemain sepak bola dalam foto itu adalah ayahnya sendiri. Selama ini ayah dan ibunya tak pernah bercerita mengenai hal itu. Maka, ia terus bertanya pada pemburu tua yang memberi tahunya rahasia itu agar bercerita lebih banyak.
Menurut si pemburu, ayahnya dulu adalah bungsu dari tiga bersaudara yang dikenal sebagai trisula maut. Kaka sulungnya berposisi gelandang tengah sekaligus playmaker, kakak keduanya berada di kanan luar sebagai pengumpan yang akurat. Ayah Ikal adalah si bungsu yang dikenal sebagai sayap kiri yang cepat. Kelincahan dan kekuatan tendangan kaki kiri bocah bernomor punggung 11 itu tak diragukan lagi.
Dalam sebuah kompetisi piala Disctric beheerder yang diadakan Belanda, trisula maut itu tergabung dalam tim unit parit tambang. Kejuaraan itu memang digelar di kalangan karyawan dan kuli tambang timah untuk memperingati hari lahir ratu Belanda. Dengan mudah unit parit mengalahkan lawan-lawannya. Belanda pun khawatir. Tentu, pribumi tak boleh menang melawan Belanda karena hal itu bisa membangkitkan semangat perlawanan. Dalam lomba marathon misalnya, pelari pribumi yang sudah berada di depan sengaja memperlambat larinya agar kalah dari pelari Belanda. Siapa pun yang mencoba memenangkan pertandingan olahraga akan diciduk dan dimasukkan ke dalam tangsi—sebutan bagi kamp penyiksaan bikinan Belanda.
Ketika tim sepakbola Belanda yang berisi para ambtenaar Belanda bertemu dengan tim unit parit, mereka telah memperingatkan agar tim pribumi itu tidak mencoba-coba untuk memenangkan pertandingan. Namun, ternyata tiga bersaudara itu tak menggubris. Mereka mengobrak-abrik pertahanan tim Belanda. Hasilnya, mereka menang 1-0 oleh tendangan halilintar kaki kiri pemain bernomor punggung 11, ayah Ikal. Nahas baginya, ia kemudian diciduk oleh Belanda dan dikeluarkan dari tangsi dalam keadaan lutut kiri hancur. Waktu itu usianya baru 17 tahun. Karir sepak bolanya mati terlalu dini.
Ikal terharu mendengar kisah ayahnya. Ia kemudian bertekad untuk menjadi pemain tim nasional Indonesia. langkah pertamanya adalah bergabung dengan klub kampung yang dilatih oleh pelatih Toharun. Pelatihnya itu sendiri bilang bahwa ia pernah melihat langsung permainan ayah Ikal.
“Tak terbendung, Ikal, ayahmu tak terbendung. Pemain sayap paling cemerlang yang pernah kulihat,” begitulah pelatih Toharun mengenang masa keemasan ayah Ikal (hlm. 55).
Ikal menempati posisi yang sama persis dengan ayahnya, sayap kiri. Ia juga memilih nomor punggung 11. Pelatih Toharun memujinya. Bahkan ia menyamakannya dengan Kevin Keegan, meski hanya berdasarkan bentuk pantatnya. Ia kemudian terpilih sebagai pemain junior kabupaten.
Ketika diadakan seleksi untuk pemain junior tingkat provinsi, Ikal pun diusulkan oleh pelatih Toharun. Ia berangkat ke Palembang. Sayang, ia gagal. Pun ketika ia mencobanya lagi berkali-kali kemudian, ia tetap gagal. Malah, tingkat kabupaten pun ia tak lolos. Ia menangis menyadari ketidakberhasilannya untuk mewujudkan mimpi sang ayah, meskipun ayahnya sendiri tak pernah menuntutnya menjadi pemain sepak bola.
Tapi, ayahnya tahu kelebihan anaknya. Di hari ulang tahunnya, Ikal mendapatkan sebuah raket kayu. Dengan raket itu ia berlatih bulu tangkis. Ia menemukan dunianya dalam bulu tangkis. Begitulah sang ayah mengajarkan nilai-nilai pantang menyerah. Gagal di satu bidang bukan berarti gagal di segala bidang. Masih banyak pilihan yang bisa diambil.
Ketika akhirnya Ikal mendapatkan beasiswa studi di Universitas Sorbonne, Perancis, ia berniat untuk membahagiakan ayahnya. Maka, ia mampir ke Spanyol dalam perjalanan backpacking-nya. Ayahnya adalah penggemar Real Madrid dan Luis Figo. Di kota Madrid, ia memburu jersey Madrid bernama punggung Figo.
Seorang perempuan lokal, Adriana menawarinya sebuah kaos Figo bertanda tangan asli. Sayang, harganya yang 250 euro tidak cukup dengan kantongnya. Ia hanya memiliki 60 euro. Berbekal kenekatan, ia pergi kePlaça de Catalunya, Barcelona. Tempat itu adalah kiblat para backpacker dunia. Ia mencari-cari informasi lowongan pekerjaan apa pun.
Ikal melakoni tiga pekerjaan sekaligus: siang hari ia menjadi tukang cat dan kuli angkut furnitur, malam hari menjadi pembantu umum di tim junior Barcelona F.C., dan terkadang ia mengamen bersama teman-temannya sesama backpacker. Sedikit demi sedikit ia mampu mengumpulkan uang yang mencukupi jumlahnya untuk menebus kaos bertanda tangan Luis Figo itu.
Adriana, pemilik kaos itu, kagum dengan semangat Ikal. Ia adalah seorang Madridistas—sebutan bagi penggemar Real Madrid. Keduanya menemukan kecintaan yang sama, sepak bola. Melalui Adriana, Ikal mendapatkan makna dibalik permainan sepak bola. Bukan sekadar permainan konyol 22 pemain memperebutkan sebuah bola. Tak hanya itu, namun ada mimpi, patriotisme, cinta, dan tentu saja bisnis dalam sepak bola. Di salah satu tribun stadion Santiago Bernabéu, menyaksikan pertandingan Real Madrid versus Valencia, ia membayangkan ayahnya berteriak di tengah ribuan penonton. Ia berteriak Indonesia! Indonesia!
Membaca novel tipis ini kita akan mendapatkan sisi lain dari karya Andrea Hirata. Sebelumnya Andrea dikenal dengan novel-novel tebal dan jalinan cerita yang rumit dengan deskripsi padat. Namun, dalam novel terbarunya ini ia menggunakan gaya bahasa yang ringan. Seperti yang ia utarakan dalam launching-nya, ia menghindari pertanyaan-pertanyaan retorik yang lazim ia gunakan dalam karya-karya sebelumnya. Ia baru saja mengikuti program International Writing Program yang diselenggarakan oleh University of Iowa, Amerika Serikat. Hasilnya, tulisannya makin efisien. Di luar teknis penulisannya, novel ini adalah kado terindah untuk persepakbolaan tanah air agar kembali bangkit.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar